Selasa, 03 Maret 2009
I'M The Winner Seri 2
- Melibas si MALAS
MALAS, Cuma lima huruf sih. Tapi efeknya? Uh, bias jadi cerpen alias beribu-ribu huruf panjangnya. Kalau nggak mawas, si malas bisa bikin tewas! Wah, segitu parahkah? Bahas tuntas si malas, yuk!
Ugghhhh….. SEBEL!
Pasti dong kamu pernah ngerasain ‘serangan musuh’ satu ini, atau malah sering? Duh, bawaannya nggak pengin ngapa-ngapain! Asyiknya tidur, bengong sambil ngemil. Trus berharap tiba-tiba ada di tepi pantai dengan segelas jus dan sepotong black forest (lho?). pokoknya nyantai abis deh. Aih, kok bisa gitu? Kalau dikulik-kulik, penyebabnya beragam banget. Apa aja sih?
1. Bosan dengan aktivitas yang ada.
2. Capek, banyak kerjaan yang bikin fisik dan batin lelah.
3. Nggak semangat, nggak punya motivasi.
4. Bingung, kerjaan numpuk tapi nggak tahu mana yang mesti dikerjakan lebih dulu. Ujung-ujungnya jadi males, deh!
Nah lo! Gimana dengan kamu sendiri? Bisa sama bisa lain ya dengan alasan-alasan di atas. Namun, dari lontaran-lontaran tersebut, penyebab paling umum adalah bosan dengan aktivitas yang ada. Kenapa bisa bosan? Sebelumnya kita cari tahu dulu yuk, apa sebenarnya mala situ.
Malas itu….
Tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu, segan, tidak suka, dan tidak bernafsu. Itu definisi malas yang tertera di KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA.
Malas yang nggak bernafsu biasanya karena alasan capek dan bosan. Malas yang segan, karena aktivitas yang dilakukan terasa monoton. Malas yang nggak suka, karena kurang semangat atau nggaka ada motivasi. Sedangkan malas yang tidak mau bekerja, biasanya disebabkan nggak punya planning hidup yang jelas. Kamu YANG MANA? Semuanya?!? Wah, ini sih malas pangkat tujuh!
Ah Nida, aku Cuma nyantai sebentar aja kok, nggak keterusan deh!
Mungkin ada apologi seperti itu, sebab kadar malas sendiri bermacam-macam. Ada yang Cuma sebentar saja, kemudian bisa melanjutkan aktivitas lagi. Ada yang cukupan (perlu waktu agak banyak untuk nyantai). Ada juga malasnya yang keterusan.
Lantas?
Yang harus diingat, sekecil apapun malas, bisa menyebabkan sesuatu yang besar (dan merugikan, tentu). "Laa shaghirata ma’a al-ishrar," tidak ada sesuatu yang kecil bila dilakukan terus menerus. Begitu kata Ali bin Abi tholib.
Jangan sampai TEWAS
Coba kita pikir hal yang kecil dulu.
Malas mandi ------------------------- badan bau dan penyakitan
Malas bangun pagi ----------------- telat sekolah / kuliah
Malas ngerjain PR ---------------- diomelin guru
Malas ngunci pintu rumah ----- kemalingan
Sampai situ saja? Nggak. Berawal dari yang kecil, maka akan menghasilkan yang besar, begitu juga dengan malas.
Malas belajar atau menuntut ilmu misalnya, bikin kita jadi ‘oon. Wawasan nggak berkembang, otak nggak terasah. Ngomong sama teman nggak nyambung. Boro-boro ikut pelajar teladan, ngerjain soal gampang aja bisa keringatan. Mau kerja ditolak karena nggak punya ijasah. Wiraswata gagal mulu karena gampang dicipoain alias ditipu (abis banyak nggak taunya). Hidup jadi merana. Hiyy, serem, jadi efek domino kan? Perhatikan ilustrasi berikut:
SI Pinter : mari kita berbisnis! Modal dari kamu, yang kerja kamu, dan keuntungan dibagi rata, saya 80% buat kamu 20%, OK?
SI Oon : baik! OK juga tuh….
Lain lagi kalau malas beribadah. Sudah masuk waktu shalat dhuhur masih berleha-leha, trus ketiduran, eh…. Tiba-tiba udah ashar. Padahal kan itu shalat wajib, gimana yang sunnah? Malas puasa, malas baca Al-Qur’an dan menuntut ilmu agama (jadi nggak tahu mana yang halal dan haram), malas pergi haji (meski dokunya ada)…de el el. Kalau ngikutin senandungnya Bimbo: ada kenalan yang bilang, ibadah itu nanti kalau tua saja… wuah, siap-siap deh menderita di akhirat (juga di dunia). Lha wong tujuan kita hidup ada di dunia untuk ibadah, kok….!
Tapiiiii… emang nggak boleh ya, MALAS-MALASAN dikit?
Ehm, bedakan malas dengan istirkha’ atau rileks. Non! Memang sudah dari sononya yang namanya manusia itu adaaaa… aja problemnya. Makanya dalam Al-Qur’an disebutkan sifat-sifat manusia yang suka berkeluh kesah. “ Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (QS Al-Ma’aarij (70) : 19), lemah “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu[286], dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS An-Nisa’ (4) :28), gelisah “Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, “ (QS Al-Ma’aarij (70) :20) dan tergesa-gesa “ Manusia Telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.” (QS Al-Anbiya’ (21): 37).
Adalah hal wajar saat dalam kehidupan ada rasa suntuk, jutek, bĂȘte, bosan, de es be, yang membuat kita ingin keluar dari situasi itu. Nah, disinilah dibutuhkan kondisi rileks dan santai, so, istirkha’ oke-oke saja, bahkan diperlukan. Tapi jangan juga jadi kelamaan, karena ujung-ujungnya jadi MALAS.
Nah, kalo sudah malas tentu harus ada usaha untuk menghilangkannya. Gimana? Yang pertama coba kita petakan penyebab malas, kemudian coba deh cari solusinya.
Penyebab malas:
1. Bosan / Monoton
2. Lagi Banyak Masalah
3. Kecapekan
4. Kerjaan Banyak
5. Nggak semangat
Solusi:
1. Refreshing, tak perlu piknik yang jauh. Cari aja suasana baru, misalnya ubah tata letak kamar kamu.
2. Pilah-pilah masalah dan selesaikan. Kalo perlu minta bantuan orang lain biar kamu bisa memandang masalah itu dari sudut lain. Cara ini bisa sangat ngebantu lho.
3. Istirahat, itu pasti. Tubuh kamu juga punya hak. Bikin skala prioritas dalam melakukan sesuatu.
4. Bersikap realistis. Apakah karena kerjaan yang banyak atau karena ditumpuk? Kalo karena kerjaan yang banyak, atur dan bikin jadwal. Kalo karena ditumpuk? Ini sih salah kamu sendiri J. Selesaikan secepatnya dan bersikap tawazun (seimbang).
5. Cari dong semangatnya J. Banyak gaul dengan orang-orang yang bisa memotivasi diri kita, itu akan membantu menumbuhkan semangat.
Itu Cuma contoh aja, sobat muda. Kamu pasti punya cara sendiri untuk menggerus si MALAS kalau muncul. Tapi ada yang bilang, yang paling penting untuk menghilangkan rasa malas adalah HARAPAN (ingat kisah empat Lilin?). kalo kita berharap dan ikhlas pada Allah, sebenarnya kita tidak pernah malas, walau seberat apapun. Betul juga, ya? Apalagi semestinya nggak ada kamus malas dari diri seorang yang mengaku muslim. Jadi, sobat muda, OPTIMIS aja, bahwa kita pasti bisa melibas si MALAS!....
- Ayo lawan si MALAS
Malas bisa berujung pada kehancuran, percaya atau nggak? Harus! Hehehe… ups, emang benar kok, sobat muda! Okke deh… langsung aja kita ulik!
Story-nya KA’AB bin MALIK
Kamu pasti tahu dong kisah sahabat Rasul, Ka’ab bin Malik, yang diboikot oleh Rasulullah dan sahabat lainnya karena nggak ikut perang Tabuk. Penyebabnya satu, karena bermalas-malasan. Ketika Rasulullah dan para sahabat bersiap-siap, Ka’ab tidak melakukan apa-apa. Begitu juga ketika Rasulullah berangkat, Ka’ab belum menyiapkan apa-apa. Keesokan harinya ia berniat menyusul, namun lagi-lagi ia tak melakukan persiapan. Begitu seterusnya sampai Rasulullah dan para sahabat kembali. Ka’ab tidak memiliki alasan apa-apa, “aku mampu melakukan semua itu jika aku mau.” Berarti? Yap, rasa malaslah yang mendera Ka’ab, sehingga tidak cepat mempersiapkan diri dan tertinggal dari Perang Tabuk. ‘bonusnya?’ Ka’ab bersama dua orang yang lain dikucilkan selama 40 hari, yang menurut Ka’ab, bumi yang luas seakan begitu sempit. Alhamdulillah, setelah sungguh-sungguh bertobat, Allah berkenan menerima taubat Ka’ab dan dua orang yang lain.
Begitulah, kemalasan hanya akan membawa kerugian, masih banyak lagi efek negative dari malas, perhatikan deh penjelasan berikut:
Jadi nggak PRODUKTIF
Seorang muslim harus selalu berorientasi pada produktivitas. Ia harus selalu berusaha mengoptimalkan kemampuan dengan seluruh daya upaya, tidak melakukan pekerjaan dengan setengah-setengah dan bergerak cepat dari satu pekerjaan ke pkerjaan lain. Faidza faraghta fanshab. Maka, apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Begitu kata Allah dalam Q.S. Al-Insyirah : 7.
Produktivitas kerja merupakan suatu kewajiban, kalo leyeh-leyeh dan malas-malasan, bagaimana urusan yang ada bisa selesai?
Hasan Al-Banna berkata : “ kewajiban yang ada lebih banyak dari waktu yang tersedia!”
Nggak DISIPLIN
Ini jelas. Gimana bisa jadi pribadi yang disiplin, kalo kerjaannya Cuma malas-malasan? Ayat diatas (QS Al-Insyirah:7) juga masih berlaku. Setelah satu pekerjaan selesai, kita harus segera menyelesaikan pekerjaan yang lain. Lha ini…, kalo belum selesai tapi sudah malas-malasan, kapan tuntasnya dong?
Nggak punya MANAJEMEN HIDUP yang baik
Setiap diri yang ingin menjadi pribadi yang berhasil, harus pandai mengatur urusan hidupnya dengan baik. Harus juga menghindari kebiasaan yang nggak jelas (ya malas ini), matang dalam pertimbangan, dan memiliki perencanaan sebelum melakukan pekerjaan. Kalo bawaannya malas aja, ketahuan… pasti nggak punya program dan manajemen yang jelas dalam hidupnya.
Wasting TIME
Baca deh ungkapan di bawah ini:
a. Untuk mengetahui nilai satu tahun, tanyalah seorang siswa yang gagal dalam ujian kenaikannya.
b. Untuk mengetahui nilai satu bulan, tanyalah seorang ibu yang melahirkan bayi premature.
c. Untuk mengetahui nilai satu minggu, tanyalah seorang editor majalah mingguan.
d. Untuk mengetahui nilai satu hari, tanyalah seorang buruh harian yang memiliki enam anak untuk diberi makan.
e. Untuk mengetahui nilai satu jam, tanyalah seorang ayah yang sedang menanti kelahiran anaknya.
f. Untuk mengetahui nilai satu menit, tanyalah seorang yang ketinggalan kereta.
g. Untuk mengetahui nilai satu detik, tanyalah seorang yang selamat dari kecelakaan.
h. Untuk mengetahui nilai satu milidetik, tanyalah seorang atlet yang memenangkan medali olimpiade.
Yuk, KERJA!
Yap! Sekali lagi, waktu! Sekali kita malas-malasan, pasti ada waktu yang terbuang percuma. Padahal tak ada sedetik waktu pun yang tak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah nanti.
Duh, kok kayaknya hidup ini jadi kejar-kejaran gitu, sih? Wah, bukan begitu sobat muda. Tapi perintah Al-Qur’an memang tegas:
“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah : 105)
Tuh, kalo Cuma malas-malasan, apa pekerjaan yang telah kita hasilkan? Apa yang akan Allah perlihatkan pada kita nanti??
Bahkan bukan hanya sekedar bekerja, Allah juga mengajak kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Lihat deh surat Al-Baqarah : 148.
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Islam memang sangat menghargai kerja keras dan mengaitkannya dengan keimanan, sedangkan kebalikannya, malas dianggap sebagai perbuatan dosa. Contohnya nih, sikap malas bekerja dalam Islam bisa menyebabkan kekufuran. Why? Jika kemalasan itu melahirkan kemiskinan dan kemiskinan itu menggiring kepada kekufuran maka kemalasan itulah yang jadi cikal bakal kekufuran. Dosa kan? Trus, hal penting lainnya, jangan juga menyalahkan keadaan.
George Bernard Shaw, penulis drama Inggris, bilang begini: “orang selalu menyalahkan keadaan. Saya tidak percaya kepada keadaan, orang yang berhasil di dunia ini adalah orang-orang yang bangkit dan mencari keadaan-keadaan yang mereka inginkan, dan kalau tidak bertemu, mereka ciptakan keadaan-keadaan tersebut.”
Maksudnya, jangan mudah menyerah. Ketika kita malas dan nggak tahu apa yang mesti kita lakukan, kita harus menciptakan keadaan sendiri yang bisa mengusir rasa malas itu. Gambarannya mungkin seperti ini:
Orang dengan sikap AKU BISA!
Orang dengan sikap “Aku Bisa” akan:
- Mengambil inisiatif untuk menjadikan segalanya terlaksana.
- Memikirkan solusi dan pilihan, dan
- Bertindak
Orang dengan sikap AKU TIDAK BISA
Orang dengan sikap “Aku Tidak Bisa” akan:
- Menantikan sesuatu terjadi padanya
- Memikirkan masalah dan hambatannya
- Selalu merasa jadi korban.
Do'a biar NGGAK MALAS!
Last but not least, Islam memang agama yang lengkap. Bahkan untuk malas pun ada do’anya. Rasulullah SAW selalu berdo’a dengan do’a ini sobat muda:
“Allahumma inni a’uudzubika minal hammi walhazani, wa a’uudzubika minal ‘ajzi wal kasali, wa a’uudzubika minal jubni wal bukhli, wa a’uudzubika min ghalabatid dayni wa qahrir rijaali.”
“ Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari kemurungan dan kesusahan, aku berlindung pada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung pada-Mu dari sifat pengecut dan bakhil, dan aku berlindung pada-Mu dari tekanan utang dan kesewenang-wenangan orang.”
Yuk , Lantunkan tiap hari, dan tentu saja dengan usaha yang nyata. OKE?****
bersambung...........
Senin, 02 Maret 2009
PKS Menjawab Fitnah
PKS Menjawab Fitnah
banyak yang simpati lalu mendukung, tapi tidak sedikit yang menebar halang rintang dengan langkah politis, bahkan ada yang menebar kedustaan dengan isu keagamaan. Cara yang terakhir ini berulang kali dimunculkan barbarengan dengan perjuangan politik PKS melalui pemilu legislatif dan pilkada.
TETAP PARTAI DA’WAH, MESKI PKS TERUS DIFITNAH
Bayan Dewan Syari’ah Pusat Partai Keadilan Sejahtera
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahi rabbil alamin wasshalatu wassalamu ‘ala sayyidil mursalin, nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Wa ba’du..
Fenomena partai da’wah PKS dalam blantika perpolitikan nasional telah mengundang banyak hal. Ada ketercengangan, ada pertanyaan, ada pula kekhawatiran bahkan kecurigaan. Menghadapi laju PKS di ranah politik sekaligus ranah da’wah, berbagai pihak melakukan ragam cara. Bertambah banyak yang simpati lalu mendukung, tapi tidak sedikit yang menebar halang rintang dengan langkah politis, bahkan ada yang menebar kedustaan dengan isu keagamaan. Cara yang terakhir ini berulang kali dimunculkan barbarengan dengan perjuangan politik PKS melalui pemilu legislatif dan pilkada.
Kedustaan (iftira) dengan isu keagamaan itu berupa sebutan atau stempel yang sembarangan dan sama sekali mengabaikan perintah Islam untuk klarifikasi (tabayyun) baik dengan meruju dokumen-dokumen PKS maupun dengan menanyakan secara langsung kepada pihak yang berkompeten di PKS. Kedustaan yang terbaru dibuat oleh yang menamakan dirinya Tim Taushiyah dan Maklumat pada hari Ahad 22 Sya’ban 1429 H/24 Agustus 2008 di salah satu Pesantren. Kami tidak sampai hati menuliskan sembilan nama Kiyai sebagai tim perumus yang sejatinya mukarramun. Inti dari taushiyah tersebut meminta masyarakat khususnya kalangan tertentu dari kaum muslimin, ’agar mewaspadai gerakan Wahabisme yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang bertujuan menghilangkan syari’at dan tradisi Yasinan, Tahlilan, Qunut dan Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, serta tradisi lainnya yang suka dilakukan Ahlussunnah Waljama’ah.
Sebagai partai da’wah yang berfungsi memberikan pencerahan kepada masyarakat luas, PKS harus menjelaskan siapa ia sebenarnya. Sesuai AD-ART partai, lembaga yang berkompeten menjelaskan pandangan dan sikap keagamaan PKS adalah Dewan Syari’ah. Sedangkan pandangan atau sikap keagamaan kader PKS secara individual tidak mencerminkan pandangan dan sikap partai. Berikut ini pandangan resmi Dewan Syari’ah Pusat PKS tentang beberapa masalah keagamaan yang telah dipolitisir.
1. PKS dan Ahlussunnah Wal Jama’ah
Sebagai partai dakwah PKS berpegang teguh kepada aqidah ahlussunnah waljamaah dengan sumber rujukan utama sebagaimana termaktub dalam Ittijah Fiqih Dewan syari’ah PKS, berupa Mashadir Asasiyah (sumber hukum primer) yang disepakati oleh Jumhur Ulama Ahlu Sunnah wal Jama’ah, yaitu al-Qur’an, Sunnah yang suci, ijma’ dan qiyas.
2. PKS dan ’Wahabisme’
Tidak ada hubungan antara PKS dengan ’Wahabiyah’, yaitu gerakan yang dipimpin Syekh Muhammad bin Abdul Wahab di negeri Hijaz yang bertujuan untuk memurnikan ’aqidah dari Takhayul, Bid’ah dan Khurafat (TBC), berkerja sama dengan Malik Abdul Aziz dan menggunakan berbagai cara dari yang sifatnya halus sampai yang radikal. Jelas tidak ada hubungan historis karena PKS lahir pasca reformasi 1998. Tidak ada hubungan struktural organisatoris antara PKS dengan organisasi keagamaan di Saudi Arabia. Bahwa di antara pimpinan PKS pernah studi di Saudi Arabia, hal yang sama berlaku juga pada ormas Islam yang lain. Bahkan ada yang pendirinya pernah mukim di sana. Tapi tidak lantas ormas-ormas tersebut boleh dituduh sebagai pengusung ’Wahabiyah’.
3. Kolektivitas dan keberagaman di PKS
Sebagai partai da’wah yang berprinsip kejama’ahan, maka sifat kolektifitas menjadi ciri PKS yang mewadahi keberagaman, baik dalam rekruting kader maupun pandangan keagamaan dan politiknya.
- Ketua Majelis Syura PKS KH. Hilmi Aminuddin alumni Universitas Islam Madinah, dekat dengan kalangan Persis.
- Duta besar RI di Saudi Arabia Habib DR. Salim Segaf Al Jufri adalah seorang habib cucu pendiri Al Khairat dan salah seorang pendiri Partai Keadilan. Beberapa habaib yang lain fungsionaris PKS seperti Habib Abu Bakar Al Habsyi, Habib Nabil Al Musawwa, Habib Fahmi Alaydrus.
- Presiden pertama Partai Keadilan DR. H. Ir. Nurmahmudi Ismail, MSc lulusan Amerika, berlatar belakang pesantren di Kediri yang kental ke NU-annya.
- Presiden kedua Partai Keadilan dan PKS yang kini Ketua MPR RI DR. H. M. Hidayat Nurwahid, MA lulusan Universitas Islam Madinah, berlatar belakang Muhammadiyah.
- Presiden PKS yang sekarang Ir. H. Tifatul Sembiring alumni sekolah tinggi teknik di Indonesia dan kursus manajemen politik di Pakistan punya latar belakang organisasi di PII.
- Ketua MPP-nya Drs. H. Suharna Surapranata, MT lulusan UI dan Jepang berlatar belakang aktivis masjid kampus.
- Ketua Dewan Syari’ah PKS KH. DR. Surahman Hidayat, MA tamatan universitas Al Azhar Mesir yang bermazhab Syafi’i, latar belakangnya NU dan PUI, sebelumnya PII dan HMI.
- Beberapa anggota Dewan Syari’ah Pusat juga berlatar belakang NU seperti KH. DR. Muslih Abdul Karim, MA murid kesayangan KH. Abdullah Faqih, Langitan. H. Bukhari Yusuf, MA, sekretaris DSP, murid kesayangan KH. Noer Ahmad S, ahli Ilmu Falak NU. H. Bakrun Syafi’i, MA alumni Pesantren Al Munawwir, Krapyak, Yogyakarta adalah murid kesayangan KH Ali Ma’shum. H. Amang Syafruddin, Lc, Msi alumnus Pesantren NU Cipasung, Tasikmalaya yang sering dipuji sebagai murid nomor 1.
- Beberapa ulama seperti Prof. DR. KH. Didin Hafidhuddin, MS (ketua Baznas), DR. Ahzami Samiun, MA. (putra dari tokoh NU, KH. Samiun Jazuli), Prof. DR. Ahmad Syathori (alumni pesantren Babakan Ciwaringin dan Buntet), adalah tempat bertanya dan rujukan kader PKS.
4. Furu’iyah di PKS
Da’wah PKS menekankan pada tema-tema besar yang bersifat prinsip (qadhaya ushuliyah). Ini supaya da’wah PKS bersifat mempertemukan mempersatukan (jami’ah-tajmi’iyah) dan tidak menimbulkan perselisihan/perpecahan (tafriqiyah). Ittijah fiqh (orientasi fikih) Dewan Syari’ah PKS mendahulukan fiqh persatuan (i-tilaf) daripada fiqh perbedaan (ikhtilaf). Menggali dan mengambil faidah dari khazanah fiqhiyah yang ada dengan prinsip ”Almuhafazhatu ’alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah” mengambil pendapat klasik yang masih cocok dan pendapat baru yang lebih maslahat. Tapi dalam praktik keseharian memperhatikan harmoni dengan mazhab yang banyak dipraktikan yaitu madzhab Syafi’i. Mengedepankan cara kompromi (thariqatul jam’i) atas tarjih, dan menggunakan prinsip keluar dari khilafiah (khuruj ’anil khilaf) sejauh dimungkinkan. Kemudian terhadap perbedaan dalam masalah cabang (furu’) mengedepankan sikap toleran (tasamuh). Prinsip yang dipegang ”NATA’AWANU FIMA ITTAFAQNA ’ALAIHI WA YA’DZURU BA’DHUNA BA’DHAN FIMA IKHTALAFNA FIHI” – Bekerjasama dalam hal-hal yang disepakati dan saling menghormati dalam hal-hal yang diperselisihkan.
5. Sikap PKS dalam masalah khilafiyah
Berikut ini beberapa masalah khilafiah/furu’iyah yang sering dijadikan alat untuk memfitnah PKS dan pandangan resmi Dewan Syari’ah Pusat PKS tentang itu.
a. Do’a Qunut
Bagaimanapun do’a qunut status hukumnya sunat. Yang disepakati adalah do’a qunut dalam shalat witir, qunut nazilah dalam shalat fardhu yaitu memohon tolak bala dari kaum muslimin dan mendo’akan bencana bagi musuh Islam. Adapun qunut shubuh tetap saja merupakan masalah khilafiyah. Masalah pilihan, paling tinggi posisinya antara rajih dan marjuh, bukan antara sunnah dan bid’ah. Jadi tidak ada bid’ah dalam qunut shalat fajar. Dan mengamalkan yang marjuh bisa menjadi pilihan jika membawa kemaslahatan dalam mu’amalah. Jadi bukan sikap plinplan, tapi cerminan sikap bijak dan cerdas. Secerdas Imam Muhammad bin al Hasan al Syaibani murid Imam Abu Hanifah yang melakukan qunut ketika ziarah ke Mesir dan menjadi imam shalat shubuh. Ini karena beliau menghormati Imam Syafi’i -imam madzhab yang dominan di Mesir. Dan sebijak Imam Syafi’i yang tidak qunut shubuh ketika beliau ziarah ke Imam Muhammad di Baghdad.
Dalam pengamalan di acara-acara PKS kadang qunut shubuh kadang juga tidak, tergantung imamnya. Dan itu tidak pernah ada masalah.
b. Membaca do’a dan tahlil untuk yang meninggal
Pada dasarnya membaca do’a untuk mayit dianjurkan (sunat). Berkat ikatan ’aqidah tauhid tidak terputus hubungan sesama muslim dengan yang sudah mati sekalipun. Dalam al Quran ada do’a ”Rabbanagfirlana wa li-ikhwanina alladzina sabaquna bil imani, wala taj’al fi qulubina ghillan lilladzina amanu.. rabbana innaka raufurrahim”. (QS 59: 10). Menghadiahkan bacaan Surah al Fatihah atau lainnya untuk mayit, atau mewaqafkan/menshadaqahkan sesuatu atas nama atau menujukan pahalanya untuk mayit merupakan amal shalih yang diterima, sesuai pendapat jumhur ulama. Istigfar, tasbih, tahmid dan tahlil merupakan bagian dari keseluruhan do’a yang dibaca. Waktu berdo’a untuk mayit tidak harus dibatasi pada waktu atau hari-hari tertentu, dan tidak boleh disyaratkan, sehingga pilihan waktunya lebih luang dan leluasa sesuai kesempatan atau kemampuan.
c. Perayaan maulid Nabi saw
Perayaan memperingati maulid Nabi Muhammad saw menurut sebagian riwayat, digagas oleh Sultan Salahuddin al Ayyubi di Mesir dalam rangka meningkatkan ruhul jihad umat Islam. Sampai hari ini Universitas Al Azhar sendiri mensyi’arkan peringatan maulid Nabi saw. Bagi kepala pemerintahan seperti Sultan Salahuddin, hal itu merupakan kebijakan yang sesuai syari’ah (siyasah syar’iyah), yang didefinisikan imam Ibnu Uqail sebagai perbuatan yang dilakukan karena lebih maslahat bagi masyarakat dan lebih menghindarkan mereka dari mafsadat, meskipun tidak pernah disabdakan atau dicontohkan oleh Nabi saw. Adapun bagi masyarakat muslim, peringatan maulid Nabi saw pertimbangannya adalah semata-mata kemaslahatan (mashlahah mursalah). Dasar pertimbangan maslahat ini juga yang menyeleksi ragam acara yang dipandang membawa maslahat. Tentu saja dalam konteks ini ada ruang bagi tradisi dan kreasi yang baik, sehingga ada variasi dari tempat ke tempat lain dan dari waktu ke waktu yang lain. Jika dibarengi niat yang lillah, untuk meninggikan Dinullah dan tidak ada sesuatu yang melanggar syari’ah dalam mata acaranya, insya Allah bernilai ’ibadah.
Di lingkungan PKS, biasa diadakan peringatan maulid Nabi saw baik oleh DPP maupun struktur di bawah. Bahkan dianjurkan agar pelaksanaannya bekerjasama dengan masjid, lembaga keagamaan atau masyarakat sekitar. Para kepala pemerintahan kader PKS biasa memprakarsai atau mensponsori. Para da’i atau asatidz kader PKS biasa menjadi penceramah dalam peringatan ini.
d. Yasinan
Disebutkan dalam sebuah riwayat Imam Ahmad bahwa Surah Yasin merupakan qalbunya al Quran. Membacanya merupakan ’ibadah. Disepakati anjuran membacanya di samping orang yang sakit parah. Boleh dibaca untuk pengobatan dengan ruqyah syar’iyah. Boleh membacanya untuk yang sudah meninggal, menurut jumhur ulama. Sejauh ada pendapat yang membuka peluang ’amal, adalah tidak bijak menutupnya bagi siapa yang ingin melakukannya. Waktu membacanya luas, boleh siang apalagi malam dan pada waktu-waktu yang khidmat. Tidak perlu dibatasi pada waktu tertentu. Pertimbangannya adalah kesempatan dan kekhidmatan. Membiasakan acara membaca al Quran atau memilih surat-surat tertentu, insya Allah merupakan ’adah shalihah atau tradisi yang baik. Memilih surat tertentu untuk dilazimkan dibaca, bukan karena mensyaratkan atau membatasi, tapi karena lebih menyukainya atau lebih familiar, insya Allah merupakan kebajikan, semoga Allah mempertemukan pembacanya dengan surat yang dicintai.
Secara umum, merupakan kebijakan dalam da’wah PKS untuk menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan (ihyaul sunnah al mahjurah) dan tradisi Islami yang menyemarakkan syi’ar Islam sebagai cerminan ketaqwaan.
Melalui bayan ini kami serukan kepada segenap pencinta kebenaran dengan semangat iman dan keadaban, agar tidak termakan oleh fitnah dan hasutan baik lisan maupun melalui selebaran gelap yang menuduh PKS adalah Wahabi dan bukan Ahlussunnah Wal Jama’ah. ”Berbuat dusta dan menyebarkannya adalah dosa besar” (HR Bukhori).
Hasbunallah wani’mal wakil, wahuwal muwaffiq ila aqwamith thoriq
Jakarta, 21 Syawwal 1429 /21 Oktober 2008
Dewan Syari’ah Pusat
Partai Keadilan Sejahtera
KH. DR. Surahman Hidayat, MA
Ketua
"Risalah Untuk Mengokohkan Ukhuwah dan Ishlah"
"Risalah Untuk Mengokohkan Ukhuwah dan Ishlah"
Senin, (1/10), Dewan Pengurus Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP PKS) mengeluarkan sebuah Risalah. Keluarnya risalah ini merupakan tanggapan resmi PKS terhadap berbagai fitnah yang melanda PKS yang dimulai sekitar bulan Juni. Tanggapan resmi itu berjudul "Risalah Untuk Mengokohkan Ukhuwah dan Ishlah".
PK-Sejahtera Online: Hingga kini, di berbagai daerah, khususnya daerah yang akan menggelar Pilkada, tersebar fitnah tentang PKS. Selebaran gelap itu menyebutkan PKS merupakan aliran wahabi, Gerakan Anti Maulid(GAM), Gerakan Anti Tahlil (GAT) dan anti barzanji.
Dalam risalah tersebut, PKS menolak semua tuduhan yang disangkakan
kepada partai yang sudah terdaftar di Departemen Hukum dan HAM RI, ini.
Kepada seluruh kader dan simpatisan, PKS meminta untuk mengedarkan informasi ini dan menjawab setiap fitnah yang ada.
Yang Muda Yang Tidak Berdaya (?)
Alfan Khusaeri, ST.
Yang Muda Yang Tidak Berdaya (?)
PK-Sejahtera Online: Wajahnya imut seperti remaja ABG kebanyakan. Namun siapa yang menduga kalau pemuda berumur 19 tahun ini istimewa. Letak keistimewaanya bukan karena ia perlente, macho, kaya, keren atau serentetan kriteria menawan ala kehidupan jet z. Tak lain tak bukan karena ia adalah seorang Walikota. Adalah John Tyler seorang mahasiwa yang baru saja masuk di Universitas Oklahoma, berhasil terpilih menjadi seorang Walikota Muskogee, kota di wilayah negara bagian Oklahoma. Dia berhasil mengalahkan rivalnya yang tak lain adalah incumbent Walikota setempat. Yang menakjubkan, John meraih kepercayaan masyarakat dengan perolehan suara 70% !
Penggalan berita tentang John Tyler di atas bukanlah sebuah kebetulan semata tentang bagaimana tokoh muda menjadi tumpuan harapan kepemimpinan. Setidaknya hal tersebut telah digoreskan sejarah akan bukti ilmiahnya. Ambil contoh adalah terpilihnya Leon Bostein sebagai rektor New Hampshire's Franconia College pada tahu 1970. Dia terpilih pada umur 23 tahun, dan tercatat sebagai rektor termuda sepanjang sejarah Amerika. Bukan hanya itu, F.D. Roosevelt berumur 42 tahun menjadi Presiden, JFK 43 tahun menjadi Presiden, Bill Clinton 42 tahun menjadi Presiden, dan Tony Blair 43 tahun menjadi Perdana Menteri. Di Amerika saat ini pun "demam" tokoh muda dibuktikan dengan naik daunya Barrack Obama (46 tahun). Hal ini terbukti dengan perolehan dukungan total yang diperolehnya saat ini sebesar 1.889 melebihi pesaing terketatnya Hillary Clinton sebesar 1.729 yang merupakan figur lama. Sedangkan di Tanah Air kehadiran tokoh muda dalam estafet kepemimpinan ditandai dengan kemunculan Anis Baswedan yang diangkat menjadi rektor Universitas Paramadina pada umur 38 tahun dan Prof. DR. Gumilar sebagai Rektor UI pada usia 44 tahun. Bahkan Prof. DR. Gumilar tercatat sebagai rektor termuda dalam sejarah UI.
Munculnya harapan terkait tokoh muda untuk memegang tongkat kepemimpinan tidak bisa dilepaskan dari adanya isu pembaharuan. Masyarakat sudah jenuh dengan figur lama, mereka merasa pergantian pemimpin dari tahun ke tahun sudah jumud, membosankan. Mereka butuh penyegaran. Kejenuhan ini memutar orientasi kepercayaan mereka untuk mencoba alternatif pemimpin. Di saat yang tepat munculah tokoh muda yang akhirnya menjadi tempat berlabuh harapan dan mimpi besar akan perubahan.
Memutar terus roda Reformasi dalam rangka me-reform Indonesia memerlukan kualitas prima dari gebrakan ide dan semangat. Sedangkan syarat seperti ini hanya muncul dari pemimpin yang enerjik. Pemimpin yang enerjik tidak akan pernah muncul tanpa adanya ruang kesempatan yang panjang dan luas yang diberikan kepada tokoh muda.
Bukan Masalah Kemampuan
Banyak wacana dan diskursus yang mempertanyakan kepemimpinan tokoh muda terkait kemampuan mereka. Argumentasi yang sering dipakai adalah kalau figur lama saja belum mampu menyelesaikan masalah kebangsaan yang pelik apalagi mereka yang miskin pengalaman dan baru saja menjadi pemimpin. Namun demikian tidaklah arif sekiranya diskursus itu justru berputar lebih kencang dari pada pemberian kesempatan dan dukungan pada pemuda itu sendiri untuk membangun dan memimpin. Pemberian kesempatan adalah salah satu solusi yang patut dilakukan sebagai upaya bersama membangun motivasi tokoh muda untuk berkarya dari pada debat kusir masalah kemampuan yang tak lebih justru malah menjatuhkan mental.
Kesadaran akan perlunya bangsa ini mulai percaya dan memberi kesempatan tokoh mudanya untuk memimpin harus mulai dibangun. Pemuda harus diberikan kesempatan dalam merealisasikan idealismenya terhadap perbaikan lingkungan strategis yang melingkupinya. Dan di sinilah peran nyata tokoh muda dalam pembaharuan sebagai moral force dan agent of change (agen perubahan sosial) itu berwujud. Selama ini yang terjadi adalah munculnya pesimisme di tataran elit lama akan kepemimpinan tokoh muda. Jadi persoalanya bukan pada masalah kemampuan dan keunggulan dari tokoh muda untuk memimpin, namun lebih pada tidak diberikanya pilihan yang lebih luas kepada publik secara konsisten untuk memilih tokoh muda sebagai pemimpin.
Kemenangan HADE (Ahmad Heryawan) di Pilgub Jabar dan Syampurno (Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Nugroho) di Pilgub Sumsel adalah angin segar akan kepemimpinan tokoh muda. Seharusnya hal ini dapat meyakinkan elemen bangsa tentang kepercayaan masyarakat yang sudah mulai berorientasi untuk mencari alternatif figur muda sebagai pemimpin. Oleh karena itu sudah tidak layak lagi mempertanyakan kemampuan tokoh muda untuk memimpin, karena kini hanya masalah kesempatan dan kepercayaan.
Zaman ini adalah Zaman Kita!
Sangatlah tidak mudah untuk membangun kembali Indonesia. Negara yang pernah mendapat julukan dari salah satu majalah internasional sebagai " negara paling sulit bagi seorang Presiden" ini harus mulai sedikit demi sedikit diperbaiki secara koordinatif dan massif. Salah satu yang bisa dilakukan saat ini adalah para pemuda melakukan konsolidasi diri. Bagaimanapun tak akan pernah dicapai sebuah visi besar kepemimpinan kaum muda selama terjadi parsialisaasi; bekerja sendiri-sendiri. Menurut Pan Mohammad Faiz (Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia se-India) pada tahun 2007 tercatat mahasiswa Indonesia yang belajar di Australia ada 20.000, di Malaysia 26.000, di Mesir 5.000, di Jepang 1.500, di Amerika Serikat 13.000, di Inggris 3.000, dan puluhan ribu lainya tersebar di Eropa dan Afrika. Sehingga langkah yang tepat adalah bagaimana membangun jejaring di antara keterpisahan jarak tersebut. Pada konsolidasi tersebut perlu dibangun kesadaran pentingnya mereka yang melakukan studi di luar negeri untuk segera kembali ke tanah air ketika telah selesai belajar. Karena keberadaan mereka belajar di luar negri akan sangat bermanfaat ketika keahlian itu dikontribusikan untuk bisa mengisi pos-pos kepemimpinan dalam melakukan terobosan-terobosan dalam pembangunan Indonesia. Sebagaimana yang telah dilakukan para intelektual muda pendahulu kita yang menempuh pendidikan di Belanda, bersama Moh. Hatta mereka mendirikan Pendidikan Nasional dengan tujuan membangun basis pendidikan ilmu pengetahuan kepada segenap rakyat Indonesia (Nicholas Tarling, 1999).
Konsolidasi ini adalah sebuah keniscayaan, sebagaimana selalu dilakukan di berbagai belahan bangsa. Forum Ekonomi Dunia setiap tahunya mengumpulkan para tokoh muda. Sesi ini dinamakan Young Global Leader yang mengundang calon pemimpin bangsa berusia di bawah 40 tahun untuk berdiskusi terkait permasalahan kemasyarakatan global. Di Perancis tiap tahunya mengadakan Temu Pemuda Internasional (Recontres Internationales de Jeunes) dalam rangka membahas arah pergerakan mahasiswa dan kontribusinya tatkala mereka tengah belajar di seluruh penjuru dunia. Di tataran palemen Indonesia telah ada sekumpulan kaum muda yang mengorganisasaikan diri ke dalam "Kaukus Muda Parlemen Indonesia".
Abad ke-21 adalah abad kebangkitan dari tokoh muda, dimana ditandai dengan semakin berperanya tokoh muda dalam perubahan dunia. Sudah 10 tahun reformasi hingga saat ini bergulir, dan saatnya para pemuda menghimpun diri dalam barisan yang lebih rapi dan terarah untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera. Tepatlah apa yang dikatakan Sheila Kinkade dan Christina Macy dalam bukunya: "Our Time is Now: young People Changing The Wolrd", dan premis "Yang Muda Yang Tidak Berdaya" tidak akan berlaku lagi!
Alfan Khusaeri, ST. (Sekretaris Umum DPD PKS Kota Surabaya)
Mengokohkan Jati Diri dan Citra PKS
M Sohibul Iman
Mengokohkan Jati Diri dan Citra PKS
Perolehan suara pada Pemilu 2004 yang sangat spektakuler tidak terlepas dari kenyataan bahwa 'Bersih dan Peduli' bukan semata slogan, tapi kristalisasi bukti-bukti di lapangan sejak partai ini berdiri tahun 1998 (sebelumnya Partai Keadilan). 'Bersih dan Peduli' dengan mudah diatribusikan kepada PKS karena memang nilai-nilai itu dapat dilihat dan dirasakan oleh masyarakat.
Ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa 'Bersih dan Peduli' bukan semata slogan, tapi kristalisasi bukti-bukti di lapangan sejak partai ini berdiri tahun 1998 (sebelumnya Partai Keadilan). 'Bersih dan Peduli' dengan mudah diatribusikan kepada PKS karena memang nilainilai itu dapat dilihat dan dirasakan oleh masyarakat.
Sampai kadar tertentu 'Bersih dan Peduli' telah menjadi brand image sekaligus specific knowledge PKS. Brand image terkait dengan pencitraan diri, sementara specific knowledge terkait dengan penciptaan nilai (value creation) dan penyebaran manfaat (benefit delivery). Penciptaan nilai dan penyebaran manfaat merupakan orisinalitas (jati diri), sementara citra merupakan buah atau cermin dari orisinalitas. Citra tidak dapat diciptakan dengan kemasan dan pemasaran semata, secanggih apa pun.
Kemasan dan pemasaran tanpa orisinalitas melahirkan citra semu. Citra sejati dibangun oleh orisinalitas ditambah kemasan dan pemasaran yang baik. PKS akan menggelar mukernas pada 1-3 Februari 2008 di Bali. Salah satu agenda pentingnya revitalisasi dan pengokohan citra 'Bersih dan Peduli'. Dalam dokumen falsafah perjuangan dan platform pembangunan PKS yang diterbitkan Desember 2007, citra itu tetap menjadi positioning partai.
Bersih cermin kesalehan moral, sementara peduli cermin kesalehan sosial. Dalam kedua dokumen ini ditegaskan bahwa untuk dapat memimpin bangsa dibutuhkan juga kesalehan profesional. Maka, slogan PKS menjelang Pemilu 2009 adalah 'Bersih, Peduli, dan Profesional'. Pemaknaan profesional adalah dimilikinya kompetensi inti, kecakapan manajerial, kemampuan berpikir strategis, dan sikap terbuka (open minded). Introspeksi
Sejak PKS menjadi bagian dari koalisi SBY-JK tahun 2004, citra 'Bersih dan Peduli' kurang kuat menggema. Kisah-kisah heroik sebelum 2004 yang merupakan pembuktian 'Bersih dan Peduli' di ruang publik seakan tenggelam oleh langkah-langkah politik yang mencerminkan kegamangan antara sebagai partai oposisi atau bagian dari pemerintahan. Tentu ini dapat dimaknai positif sebagai proses pembelajaran dan pencarian bentuk ideal partai dakwah. Dalam kacamata dakwah, di antara prinsipnya adalah amar ma'ruf nahiy munkar, fastabiqul khoirot, dan maslahat umat, partai oposisi dan partai pemerintah tidak dilihat dalam oposisi biner. Selalu ada ruang dan posisi yang bisa diisi untuk menjembatani keduanya.
Di sisi lain, ini juga dapat dilihat secara negatif sebagai trial and error yang dapat menggerus citra itu. Trial and error memang bagian dari proses pembelajaran. Namun, pembelajaran yang baik tentu ada evaluasi dan kerangka waktu yang jelas. Keduanya dibutuhkan agar proses pembelajaran selalu on the right track dan dapat mengukur dengan jelas kemajuan pembelajaran itu sendiri. Dengan itu pembelajaran menjadi efektif dan modal dasar 'Bersih dan Peduli' dapat dipertahankan dan dikokohkan serta disinergikan dengan citra profesional.
Jelas bahwa lonjakan lima kali lipat perolehan suara PKS telah mengantarkan makin banyaknya kader-kader PKS yang menduduki jabatan-jabatan publik, baik legislatif maupun eksekutif, di pusat maupun daerah. Ini membawa konsekuensi PKS berhadapan dengan tantangan-tantangan dan peluang-peluang kekuasaan politik dan ekonomi yang makin besar.
Tarik menarik antara tantangan dan peluang ini tentu saja harus disikapi dengan arif dan hati-hati agar tidak terjebak dalam pragmatisme dan perilaku politik primitif. Pada titik ini penerjemahan dan elaborasi makna 'Bersih dan Peduli' perlu semakin diperjelas. Disadari bahwa dalam perjalanan 3,5 tahun sejak 2004 penerjemahan ini belum membuahkan satu kejelasan dan standardisasi makna 'Bersih dan Peduli' versi PKS. Yang terlihat adalah ijtihad-ijtihad pribadi para kader dalam menerjemahkan 'Bersih dan Peduli' ketika berhadapan dengan tantangan dan peluang.
Karenanya, pemaknaan 'Bersih dan Peduli' PKS menjadi terasa beragam. Tentu ini tidak menguntungkan bagi penciptaan brand image) PKS, bahkan dapat mengaburkan orisinalitasnya. Untuk itu dalam mukernas di Bali, PKS akan dengan serius mengevaluasi masalah ini dan berupaya menerjemahkan makna 'Bersih, Peduli, dan Profesional' dalam konteks ruang publik yang lebih luas sehingga ada standar pemahaman tentang ketiganya. Diharapkan ini dapat memperjelas orisinalitas dan mengokohkan citra PKS. Nasionalis substantif Dalam mukernas di Bali juga akan digelar dialog kebudayaan dan kebangsaan dengan menampilkan tokoh-tokoh nasional maupun pengamat asing. Ini untuk membincangkan pemaknaan dan pencarian format keterbukaan dan nasionalisme baru yang sesuai dengan semangat zaman (kekinian) dan kondisi riil Indonesia yang majemuk (kedisinian).
Bagi PKS substansi keterbukaan dan nasionalisme sudah selesai. Yang diperlukan adalah pemaknaan dan reformatisasi dalam konteks tantangan zaman baru yang terus berubah, baik di tingkat global, kawasan, maupun dalam negeri. Kesadaran ideologis universal, tuntutan yuridis formal, dan kenyataan empiris masyarakat yang majemuk menjadikan masalah keterbukaan dan nasionalisme sudah selesai di tingkat institusional semua parpol (juga ormas) yang telah disahkan pemerintah. Yang sulit di tingkat pergaulan dan perilaku politik sehari-hari.
Di kalangan kader dan simpatisan parpol (juga ormas) masih banyak yang belum memiliki kemampuan bergaul secara spontan (spontaneous sociability) dengan seluruh elemen bangsa dikarenakan sekat-sekat partai (juga ormas) masing-masing. Di kalangan elite juga masih banyak yang berpolitik dengan mengeksploitasi sentimen-sentimen primordial untuk meraih simpati konstituen.
Jadi, persoalan keterbukaan dan nasionalisme bukan terletak pada klaim-klaim verbal dan seberapa majemuk kepengurusan suatu partai (juga ormas) tapi lebih pada bukti-bukti substantif-faktual. Ini terkait dengan mind set dan kejujuran pelaku partai (juga ormas) terhadap logika sehat, nurani bersih, dan nilai luhur.
Dalam dialog kebudayaan dan kebangsaan PKS juga akan membincangkan masalah itu agar seluruh kader dan elite partai mendapat wawasan lebih luas dan memiliki kemampuan bergaul secara spontan dengan seluruh elemen bangsa. PKS meyakini reformasi dan transformasi bangsa ini hanya dapat dilakukan oleh suatu critical mass (di dalam maupun di luar PKS) yang memiliki kesalehan moral, kesalehan sosial, dan kesalehan profesional, serta memiliki daya rekat bangsa. Mereka ini akan tampil menjadi sosok nasionalis substantif, bukan nasionalis pragmatis.
Subsidi Pupuk dan Nasib Petani
Ir Suswono
Subsidi Pupuk dan Nasib Petani
Ada beberapa penyebab harga pupuk tetap lebih tinggi dari HET, yaitu disparitas harga antara pupuk bersubsidi dan pupuk non bersubsidi, lemahnya pengawasan yang menjadi tanggung jawab Ko misi Pengawasan Pupuk dan Pes tisida (KP3), dan selisih antara kebutuhan pupuk di lapangan dengan alokasi.
Sebuah kemajuan empatif. Barangkali, itulah penilaian yang layak kita lontarkan sejalan dengan kenaikan angka subsidi pupuk untuk anggaran tahun 2008, dari semula Rp 6,7 triliun menjadi Rp 14,7 triliun. Alokasi anggaran yang sudah disetujui pemerintah bersama DPR RI ini bisa kita tegaskan se bagai refleksi kepedulian terhadap kepentingan petani. Apakah keberpihakan itu benar-be nar akan dira - sakan ka langan petani?
Petani kita sudah demikian tergantung pada aneka jenis pupuk seperti urea, NPK, SP36, ZA, dan KCl. Ketergantungan ini berdampak serius, yaitu kelangkaan pupuk setiap musim tanam. Jika barangnya ada, harganya jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang sudah dipatok pemerintah.
Sebagai gambaran faktual (temuan di lapangan), di beberapa daerah seperti Tegal dan Brebes — daerah sentra pertanian— harga pupuk urea untuk isi 50 kg/karung Rp 67 ribu hingga Rp 70 ribu, padahal HET hanya Rp 60 ribu. Di daerah lainnya —sebagaimana diutarakan Ketua Kelompok Tani Sumberwaru Kec. Dringu— harga pupuk bersubsidi Rp 140 ribu hingga Rp 150 ribu per kuintal, padahal HET Rp 120 ribu.
Perbedaan harga faktual di lapangan versus HET memperberat biaya produksi. Biaya yang harus dikeluarkanpetani praktis mengurangi hasil akhir ‘perjuangannya’, terlebih kalau ternyata mereka kemudian gagal panen. Derap kesejah teraan petani bukan hanya sulit be ranjak naik, tapi kian buram.
Apa yang mereka alami sungguh tidak adil. Kenapa? Alasannya dapat kita telaah pada kontribusi (baca: kepahlawanan) mereka dalam penyediaan pangan nasional. Menurut catatan Departemen Pertanian, tahun 2008 ini, petani dalam negeri mampu memproduksi sekitar 36,75 juta ton. Capaian ini dinilai bukan hanya mengantarkan catatan keberhasilan petani, tapi juga mengantarkan kondisi aman untuk ketersediaan pangan nasional. Hal ini sejalan dengan kuan titas kebutuhan pangan sebesar 32,62 juta ton. Berarti ada surplus sekitar 4,13 juta ton.
Surplus tersebut— dapat kita catat lebih jauh— merupakan kontribusi besar kaum petani dalam mengerem anggaran untuk importasi beras, yang kini harganya kian melangit. Harga beras internasional saat ini naik 250 dolar AS per ton, dari 2.850 dolar AS per ton pada Januari 2007 dan kini menjadi 3.100 dolar AS per tton. Dengan realitas harga beras internasional ini —di sisi lain terdapat surplus— maka petani kita layak mendapat gelar pah la wan devisa, yak ni dalam kategori me nahan potensi dolar terbang ke negeri jiran.
Ada beberapa penyebab harga pupuk tetap lebih tinggi dari HET, yaitu disparitas harga antara pupuk bersubsidi dan pupuk non bersubsidi, lemahnya pengawasan yang menjadi tanggung jawab Ko misi Pengawasan Pupuk dan Pes tisida (KP3), dan selisih antara kebutuhan pupuk di lapangan dengan alokasi.
Disparitas harga antara pupuk bersubsidi dan pupuk nonsubsidi yang terlalu besar —dapat men capai 3 kali lipat— telah mem buat para spekulan menjual pupuk bersubsidi ke sektor yang tidak mendapat subsidi pupuk (perkebunan swasta, perusahaan tanaman pangan, dan perusahaan peternakan). Selain itu, praktik penyelundupan pupuk ke luar negeri juga kerap terjadi. Hal ini membuat pasokan untuk pe tani berkurang —dan kalau pun ada— harganya dinaikkan melebihi HET.
Masalah kedua adalah lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) terhadap distribusi pupuk bersubsidi di setiap kabupaten atau kota. Langkanya pupuk dan harga yang jauh melebihi HET — mau diakui atau tidak— turut dipicu oleh tidak berjalannya fungsi KP3 yang dibentuk oleh pemda tingkat ka bupaten/kota. Kalau saja KP3 mengoptimalkan fungsi dan otoritasnya, setidaknya para distributor ataupun pengecer yang nyata-nyata menjual harga di luar ketentuan dapat diberikan sanksi. Di lain pihak, KP3 dapat memantau langsung wilayah yang kesu litan pupuk dan mengambil langkah cepat.
Masalah berikutnya adalah masih ada nya gap antara jumlah kebutuhan pupuk di lapangan dan alokasi pu puk bersubsidi yang ditetapkan pemerintah. Selisih ini lebih banyak disebabkan oleh perbedaan perhitungan kebutuhan pupuk per luasan hektare lahan. Faktor ketiga ini relatif jauh lebih kecil pe ng aruhnya dibanding masalah le mahnya kinerja pengawasan dan disparitas harga yang dimanfaatkan oleh spekulan.
Jalan keluar
Melihat beberapa faktor permasalahan tingginya harga pupuk yang melebihi HET, setidaknya ada beberapa solusi. Pertama, optimalisasi kinerja Ko misi Pengawasan Pupuk dan Pes ti sida (KP3) di setiap kabupaten/ kota. Komisi yang berisikan unsur peme rintahan daerah, kepolisian, serta ke jaksaan, dapat menjadi ujung tom bak penertiban distribusi. Ketika petani setempat tetap menjerit, maka KP3 dapat melihat beberapa ke mung kinan yang mendesak untuk se gera diatasi, yaitu ulah para spekulan yang menimbun pupuk, menjual di atas harga ketentuan dengan ber bagai alasannya, dan menjual di luar wilayah kewenangannya seperti ke luar daerah, sektor swasta, atau bah kan menyelundupkannya ke luar negeri.
Kedua, pemberlakuan subsidi penuh harga pupuk bagi semua sektor, baik usaha tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternak an yang dilakukan oleh petani maupun perusahaan swasta. Dengan demikian, tidak ada ruang pan cingan bagi para spekulan untuk mengambil keuntungan. Kalaupun hal ini dirasa kurang adil —perlakuan sama untuk petani dan swasta— pemerintah dapat mengganti kebijakan nonsubsidi pupuk terhadap sektor swasta dengan memperbesar pungutan pajak atau pembebanan insentif hasil produksi mereka. Dengan demikian, nilai ini dapat menutupi subsidi dan secara tidak langsung mengurangi peluang penyimpangan distribusi.
Ketiga, pemberlakuan distribusi secara tertutup. Selama ini, distribusi pupuk bersubsidi dilakukan secara terbuka, artinya pupuk yang menjadi barang subsidi dijual bebas di pasaran. Harusnya, barang subsidi ini dijual hanya kepada penerima subsidi, dapat disalurkan melalui kelembagaan petani yang sudah jelas penerima dan jumlah kebutuhannya. Ke depan, kelembagaan petani mesti diperkuat agar menghasilkan sistem yang berjalan secara tepat dan menguatkan daya tawar kaum petani.
Subsidi pupuk perlu kita catat sebagai entry point dalam upaya menerjang badai ketidak adil an yang menerpa petani. Karena itu, masih diperlukan pe rangkat aksi nyata untuk mengefektifkan kebijakan sub sidi, termasuk menghilangkan perilaku na kal se mua elemen (distributor, pengecer, spekulan, oknum aparat peng awas dan penegak hukum). Bagai ma na pun, dana subsidi pupuk —Rp 6,7 triliun saat ini— adalah anggaran negara yang tidak boleh sepeser pun disalahgunakan.
Mengambil hak petani atas anggaran negara adalah perilaku yang koruptif. Tidak berlebihan kiranya beberapa kalangan berharap agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperluas jangkauan kerja dan sektornya, termasuk salah satunya membongkar lingkaran setan pupuk bersubsidi. Inilah problem keadilan yang harus diubah, secara revolusif ataupun evolusif. Saatnya KPK turut ambil bagian penyelamatan puluhan juta petani Indonesia. Untuk misi keadilan dan kemanusiaan,khususnya petani sebagai pahlawan pangan nasional.
Ir Suswono
Wakil Ketua Komisi IV
DPR RI
PKS 'Hidup' dalam Caci Maki
PKS 'Hidup' dalam Caci Maki
PK-Sejahtera Online: “Kalau sudah punya cabang di mana-mana, di 5 benua, di dasar samudera, di ruang angkasa, emangnya kenapa? Sombong luh PKS, awas lho entar kuwalat-lat-lat-lat!,” ada yang sebegitu pedas mungkin cercaannya.
“Punya ratusan kader bergelar doktor dan ribuan sarjana saja sudah sok hebat, berlagak angkuh dan merendahkan pihak lain,“ ujar sejumlah kalangan menohok partai si bulan dan si padi.
“Tidak ada jaminan gelar pendidikan setinggi itu bisa menuntaskan permasalahan bangsa; yang penting kerja bung, bukan gelar“, tambah mereka yang semakin kesal dengan ulah PKS.
Sesungguhnya dunia cerca-mencerca, caci-memaki dan hina-menghina bukanlah barang baru dalam sejarah manusia. Itu sudah ada sejak dulu, setua sejarah kemanusiaan itu sendiri. Jadi arena caci-maki pun sesungguhnya warisan masa lalu, bedanya sekarang hujatan itu dihiasi bunga-bunga berbau PKS.
Sejarah membuktikan, semakin dewasa dan arif seseorang, maka semakin jauhlah ia dari perbuatan mencaci orang lain. Kedewasaan ini membuatnya mengedepankan ungkapan santun penuh kesejukan.
Sebaliknya begitu, semakin bijak dan dewasa seorang anak Adam, semakin sabar dan berwibawalah ia dalam menghadapi caci maki yang dialamatkan kepadanya, tanpa terpancing membalas cemoohan itu. Karena ia sadar, di balik hujan caci-maki, pasti ada hikmah kebaikan dari Tuhan. Jadi PKS patut bersyukur dengan semprotan lisan itu.
Di antara kebaikan dicerca adalah semakin terkokohkannya sifat atau akhlak mulia dalam diri seseorang. Sebut saja sifat mau dikoreksi dan membenahi diri. Sebab bisa jadi cercaan itu mengandung kebenaran, dan ini sangat bagus buat perbaikan PKS.
Selain itu, melalui penghinaan, PKS barangkali sedang dilatih untuk memaafkan. Karena bisa jadi yang mencaci-maki itu suatu saat insaf dan akan menjadi sahabat paling setia dan paling tulus dengan cara dimaafkan.
Penelitian ilmiah menyebutkan, memaafkan dapat menjadikan seseorang tidak mengulangi lagi perbuatan tidak baik yang pernah dilakukannya kepada seseorang. Di samping itu, kata para ilmuwan, memaafkan itu mendatangkan kesehatan jiwa dan raga.
Ilmuwan psikologi asal AS, Harry M Wallace dkk telah menerbitkan karyanya di jurnal ilmiah Journal of Experimental Social Psychology, volume 44, Maret 2008. Dalam bahasa Indonesia hasil judul temuan ilmiah itu berbunyi “Dampak memaafkan terhadap hubungan antar-pribadi: Apakah memaafkan akan menghalangi atau mendorong terulangnya perbuatan tercela terhadap orang lain?”
Hasilnya sungguh menakjubkan. Pernyataan maaf dari orang yang teraniaya kepada si pelaku perbuatan zalim itu ternyata membuat si pelaku pada umumnya tidak mau melakukan perbuatan buruk itu lagi. Tidak heran jika di negara maju, ‘memaafkan’ kini menjadi salah satu solusi bagi penanganan konflik antar pribadi, maupun antar kelompok masyarakat.
Memaafkan ternyata memiliki dampak positif terhadap kesehatan jiwa raga. Bahkan penggunaan ‘obat memaafkan sudah diujicobakan dalam penanganan pasien, dan berhasil baik. Ini diuraikan panjang lebar oleh Worthington Jr., pakar psikologi di Virginia Commonwealth University, AS, dkk dalam karya ilmiahnya, Forgiveness in Health Research and Medical Practice (Memaafkan dalam Penelitian Kesehatan dan Praktik Kedokteran), di jurnal Explore, Mei 2005.
Abu Awlaadih, onenosed@googlemail.com
21 MALAM DI GAZA
Tifatul Sembiring (Presiden PKS)
21 MALAM di GAZA
Lelehan darah dan air mata rakyat Palestina meneriakkan kepiluan, “Waa Islamah…”. Di manakah saudara-saudara seiman?. Sedangkan Rasulullah saw. pernah bersabda, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam percintaan dan kasih sayang mereka, bagaikan satu tubuh. Bila ada satu bagian yang sakit, maka semua tubuh merasakan sakit dan demam, hingga tidak bisa tidur”.
Di mana engkau wahai saudaraku kaum muslimin, Saat kaum Yahudi datang merobek-robek rumah kami, Menumpahkan segala jenis bom-bom dan amunisi Kreasi akhir zaman berteknologi tinggi Kami bertempur melawan musuh dan dinginnya malam Dengan tangan-tangan kosong, yang hanya tinggal kepalan. Di mana engkau wahai saudaraku kaum muslimin, Saat kami berlari-lari di kegelapan. Menghindari desing peluru yang berhamburan, Menyeret kaki berdarah-darah. Yang sobek tertancap besi yang patah. Di mana engkau wahai saudaraku kaum muslimin, Saat keluarga kami dicerai-beraikan, Oleh panasnya bom fosfor yang melelehkan jangat di badan. Saat aku berdiam menggigil di bawah gundukan Menanti waktu pagi saat gencatan. Di mana engkau wahai saudaraku kaum muslimin, Ketika kutemui anak-anak kami terserak bergeletakan Dengan tubuh lebam penuh luka mematikan. Saat jeritanku pecah, tak lagi tertahankan Menatap ketiga jasad mereka yang kaku dan diam Rasa nyeri hati tak mampu kusabarkan Semalam penuh mereka meraung-raung kesakitan. Kini… Kukecup satu per satu buah hati kami … dengan tatapan mata perpisahan Gaza… oh Gaza, dua puluh satu malam. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Tiga minggu penuh serangan brutal Israel dihujamkan ke wilayah Palestina di jalur Gaza. Pada awalnya serbuan dimulai dengan pesawat-pesawat canggih F-16 yang memekakkan telinga di jalur Gaza. Jalur yang sempit itu hanya memiliki lebar rata-rata lima kilometer dengan bagian yang paling lebar tidak lebih dari dua belas kilometer. Di sebelah Utara dan Timur berbatasan dengan Israel, di sebelah Barat ada bibir laut Mediterania. Di Selatan ada sebuah celah sempit—kota Rafah—berbatasan dengan Mesir. Akan tetapi perbatasan ini dijaga oleh dua lapis pasukan. Lapis pertama oleh tentara Mesir dan lapis ke dua adalah tentara Israel. Dengan bom-bom cluster yang canggih, senjata terbaru buatan Amerika, Israel menghancurkan dan membombardir sasaran-sasaran sipil. Mereka tidak peduli apakah itu mesjid, sekolah-sekolah, rumah-rumah, bahkan tempat-tempat penampungan pengungsi yang dikelola oleh PBB. Semua mereka hantam dengan membabi buta. Serangan ini hanya dilawan Hamas dengan senjata-senjata kecil yang biasanya digunakan dalam perang kota. Tentu saja, terjadi ketidak seimbangan kekuatan yang sangat mencolok, karena harus melawan berbagai kekuatan senjata dan alat pembunuh yang canggih keluaran terbaru. Di tengah berlangsungnya kebiadaban ini, dengan tenang dan penuh diplomasi, George W. Bush—Presiden Amerika Serikat saat itu--mengatakan bahwa Israel hanya sedang membela diri karena ditembak roket-roket Hamas. Tidak puas dengan serangan udara, hari berikutnya tank-tank Israel merangsek masuk ke wilayah Gaza, menghantam dan meluluhlantakkan bangunan-bangunan yang ada. Tanpa belas kasihan, seorang wanita yang mengibarkan bendera putihpun dihajar oleh peluru tank Israel, hingga tubuhnya hancur berserpihan. Tentara-tentara Yahudi ini memang tak peduli, apakah sasarannya perawat, dokter, pekerja sosial, atau wartawan sekalipun, semua dibantai. Sementara belasan negara Arab hanya mematung bingung tanpa protes, tanpa bantuan, dan tanpa pembelaan. Setiap pagi mata kita berkaca-kaca menyaksikan berita tentang Gaza di televisi. Malam demi malam korban selalu bertambah. Tidak kurang dari seratus orang rata-rata korban meninggal setiap hari dan lebih dari lima ratus orang luka berat. Saat gencatan senjata, setelah Gaza diserang selama tiga pekan, data jumlah korban meninggal lebih dari 1500 orang dan lebih dari 5000 orang luka berat dengan cacat permanen atau kelumpuhan dan amputasi anggota badan. Kebiadaban Israel ini memang di luar perikemanusiaan yang dikenal oleh peradaban. Bangsa yang telah dikutuk Allah swt. melalui lisan Daud dan Isa ‘alaihimassalam ini datang dan merampas tanah-tanah rakyat Palestina, setelah Inggris menduduki wilayah tersebut paska Perang Dunia I. Skenario mendatangkan orang-orang Yahudi ke Palestinapun dimulai. Perlahan namun jumlah mereka setiap waktu meningkat sangat siginifikan. Lalu pada tahun 1922, PBB menguatkan mandat Palestina di bawah Inggris. Teror-teror Yahudi atas penduduk Palestina, bahkan kasus pembakaran Masjidil Aqsha, mendapat perlindungan penuh dari tentara Inggris. Dan atas bantuan PBB, Inggris, Rusia dan Amerika, maka pada tahun 1948 berdirilah Negara Israel. Mereka memperluas wilayah pendudukan atas Palestina dan wilayah Arab sekitarnya. Selanjutnya lebih ekspansi lagi dalam perang tahun 1967. Jadi sekali lagi perlu ditegaskan dan diingatkan, bahwa status Israel atas Palestina adalah PENJAJAHAN. Awalnya hanya 5% wilayah Palestina yang diduduki oleh Yahudi. Namun kini lebih dari 80% tanah Palestina telah dirampas Israel. Kisah terakhir adalah dipenghujung tahun 2008. setelah Israel sukses memecah belah pemerintahan Palestina hasil pemilu yang paling demokratis. Pemilu yang dimenangkan oleh Hamas tersebut dimusuhi, diboikot, termasuk oleh AS dan Negara-negara Eropa. Kemudian Palestina dibelah, Mahmud Abbas dan Fatah mengklaim Tepi Barat, sementara Hamas bertahan di Gaza. Lalu disepakati gencatan senjata antara Hamas dengan Israel, namun Israel memblokade seluruh perbatasan. Tentara-tentara Yahudi memutus aliran listrik, menyetop pasokan gas dan juga memutus aliran air bersih ke Gaza. Mereka juga menyetop dan menahan semua bantuan, termasuk makanan maupun obat-obatan bagi rakyat Palestina. Tampak jelas sekali Israel amat berambisi membuat 1,5 juta rakyat Palestina yang tinggal di Gaza ini mati perlahan. Korbanpun mulai berjatuhan. Untuk memecah kebuntuan, setelah berakhirnya masa gencatan senjata, guna menarik perhatian dunia Internasional, maka Hamas menembakkan beberapa roket kecil ke wilayah Israel yang mengakibatkan kerusakan berupa lubang-lubang dangkal sebesar piring makan. Inilah yang kemudian direspon Israel dengan memborbardir habis Gaza selama 21 malam berturut-turut. Lelehan darah dan air mata rakyat Palestina meneriakkan kepiluan, “Waa Islamah…”. Di manakah saudara-saudara seiman?. Sedangkan Rasulullah saw. pernah bersabda, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam percintaan dan kasih sayang mereka, bagaikan satu tubuh. Bila ada satu bagian yang sakit, maka semua tubuh merasakan sakit dan demam, hingga tidak bisa tidur”. Kita melihat sedikit sekali perhatian dunia Islam pada saudara-saudara kita di Gaza. Padahal, sumbangan ini walaupun kecil—katakanlah walau hanya satu dolar—akan sangat berarti manakala seluruh ummat Islam di dunia serempak melakukannya, agar saudara-saudara kita di Gaza pulih dari penderitaan dan kehancurannya. Solidaritas kita akan mengalirkan semangat pada rakyat Palestina di Gaza, hingga mereka akan bangkit dan terus berjuang. Bahkan seorang Michael Heart pun terinspirasi menggubah sebuah lagu ”Sontg for Gaza”, unutk melawan kezaliman ini, diantara bait syairnya berbunyi: “We will not go down in the night without a fight, you can burn up our mosques and our homes and our schools, but our spirit will never die. We will not go down in Gaza tonight.” Memang kita sendiri—bangsa Indonesia—yang hampir 90% penduduknya adalah muslim. Peran dan kontribusi kita, sangat diharapkan oleh Negara-negara Islam lainnya, namun masih sangat sedikit memberi perhatian kepada rakyat Palestina. Berbagai demonstrasi solidaritas yang dilakukan, memprotes kebrutalan Israel, masih harus menerima cibiran dan kecurigaan dari beberapa kalangan. Dan saudaraku, betapa aku jadi malu sendiri, ternyata masih amat sedikit yang dapat kulakukan. Dan aku lebih tidak peduli lagi, ketika disebut sebagai tersangka, sebab membela saudara kami dari kejahatan kemanusiaan. Wallahua’lam bishawwab.
Senin, 16 Februari 2009
Kematian Hati
(alm) Ust. Rahmat Abdullah
PK-Sejahtera Online: Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.
Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.
Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.
Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.
Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.
Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.
Asshiddiq Abu Bakar Ra. selalu gemetar saat dipuji orang. "Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka", ucapnya lirih.
Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata.
Dimana kau letakkan dirimu?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut.
Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma'siat menggodamu dan engkau meni'matinya?
Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia ?
Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan. Mungkin engkau mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh" Betapa jamaknya 'dosa kecil' itu dalam hatimu.
Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat "TV Thaghut" menyiarkan segala "kesombongan jahiliyah dan maksiat"?
Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan " Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?"
Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang "Ini tidak islami" berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?
Sekarang kau telah jadi kader hebat.
Tidak lagi malu-malu tampil.
Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa.
Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki. Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.
Siapa yang mau menghormati ummat yang "kiayi"nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan "Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku" dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?
Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan "Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua" Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai 'alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?
Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da'wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir ? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka.
Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa "westernnya" . Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan "lihatlah, betapa Amerikanya aku".
Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri.
Mahatma Ghandi memimpin perjuangan dengan memakai tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana.
Kini datang "pemimpin" ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil, rumah mewah, "toko emas berjalan" dan segudang asesori. Saat fatwa digenderangkan, telinga ummat telah tuli oleh dentam berita tentang hiruk pikuk pesta dunia yang engkau ikut mabuk disana. "Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku"
Minggu, 15 Februari 2009
I am The Winner (motifasi menghadapi ujian atau UAN)
Seorang pecundang akan berkata “Ini mungkin, tapi sulit” sedangkan seorang pemenang akan berkata “Ini sulit, tapi mungkin”
Sekarang kita tinggal memilih, kita akan menjadi siapa? Seorang pecundang atau seorang pemenang? Seorang pecundang yang hanya dengan melihat saja sudah menyerah, pasang kuda – kuda dan dalam hitungan ketiga lari menjauh. Seorang pecundang yang patah semangat, hilang kepercayaan diri, takut, dan percaya bahwa apa yang dilakukan akan percuma saja bahkan gatot (gagal total). Ataukah seorang pemenang, seorang pemenang yang percaya bahwa dia akan berhasil, dengan semangat, usaha, kerja keras, dan do’a dia percaya mampu menaklukkan dunia. Selanjutnya? Terserah anda!
Penulis yakin bahwa semua akan memilih menjadi seorang pemenang, karena memilih menjadi pemenang atau pecundang tidak sulit, sangat mudah hanya dengan memilih. Namun dalam pelaksanaan sulit untuk diterapkan.
Hidup adalah sumber masalah, pertempuran atau bahakan medan perang yang tidak akan pernah berhenti. Sejak kita lahir hingga membaca tulisan ini, semuanya pertempuran. Pertempuran melawan ketidakmampuan, ketidakberdayaan, dan juga pertempuran melawan ketidak maha tahuan kita.
Kita tercipta menjadi seorang pemenang sayangnya kita sendiri menjadikan diri kita seorang pecundang. Bagaimana tidak waktu kita kecil kita tidak mampu berbuat apa – apa, yang bisa kita lakukan hanya menangis. Lihatlah diri kita sekarang, kita bisa berjalan bahkan berlari, kita bisa makan bahkan membuat makanan, kita bisa berbicara bahkan bernyanyi. Coba banyangkan apa yang akan terjadi apabila sejak kita terlahir kita menjadi seorang pecundang yang takut belajar berjalan karena takut jatuh, yang takut makan sendiri karena takut belepotan dan ketakutan – ketakutan yang lain. Mungkin manusia akan punah karena tak mampu berbuat apa – apa.
Apabila kita tercipta menjadi seorang pemenang, mengapa kita rubah diri kita menjadi seorang pecundang. Pecundang yang mencari kambing hitam atas kesalahannya, pecundang yang bila diberi penghalang akan berbalik arah, pecundang yang selalu mencari jalan pintas atas semua kesulitan, pecundang yang ingin sukses tanpa kerja keras dan pecundang yang selalu menunggu keajaiban turun dari langit.
Salah satu rintangan akan kita hadapi [UAS, UAN, Ujian semester], satu rintangan yang sangat mudah dibandingkan rintangan – rintangan yang akan kita hadapi dihari yang akan datang. Inilah saatnya kita menentukan menjadi siapakah kita? Seorang pecundang atau menjadi seorang pemenang? Pemenang yang dengan sepenuh hati percaya bahwa dia akan menang, pemenang yang sadar bahwa keajaiban tidak datang dengan sendirinya melainkan dengan usaha dan kerja keras, pemenang yang tidak akan berbalik arah hanya karena ada penghalang didepannya, pemenang yang tidak akan bingung tuk mencari jalan pintas karena dia tahu dia berada di jalan yang benar, pemenang yang selalu menambah bekalnya untuk menemani perjalanannya, dan pemenang yang tidak akan membohongi diri sendiri dan orang lain tuk berbuat curang.
Jika kita memilih menjadi pemenang, masih ada waktu tuk menyiapkan semua bekal, masih ada waktu tuk menyingkirkan semua rintangan, masih ada waktu tuk mengubah pikiran kita terutama tentang apa yang kita pikirkan tentang diri kita.
And the last:
U ar what u think! So, u must believe that u ar the winner!! If u believe it, u’ll be the big winner!!
S’mangat!!
HINDARI VIRUS STRESS
AKIBAT STRESS
- Tekanan pekerjaan yang berlebihan bisa mengakibatkan stress.
- Stress berkepanjangan bisa menyebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh.
- Dengan tingkat stress tinggi punya kemungkinan terkena serangan jantung 2 kali lipat dibandingkan dengan orang yang bekerja dengan tingkat stress rendah.
- Menimbulkan penyakit berbahaya lainnya seperti stroke dan kanker.
KERUGIAN BESAR AKIBAT STRESS
Penelitian yang dilakukan The National Mental Health Association (NMHA) bahkan menyatakan bahwa rata-rata perusahaan di Amerika menghabiskan sekitar $150 milyar pertahun untuk menangani masalah kesehatan karyawan yang disebabkan oleh stress.
Apakah Anda sedang mengalami stress?
Jawab pertanyaan berikut ini untuk mengetahuinya!
- Apakah Anda sering berangkat ke kantor dengan terburu-buru dan panik ?
- Apakah Anda sering makan siang di meja atau bahkan lupa makan untuk menyelesaikan pekerjaan?
- Apakah Anda sering merasa terlalu letih untuk melakukan aktifitas sesudah jam kerja?
- Apakah Anda sering mengingat kembali pekerjaan dan persoalannya sebelum tidur?
- Apakah Anda sering bermimpi tentang pekerjaan Anda?
- Apakah Anda sering menunda liburan karena terlalu sibuk?
Jika jawaban Anda kebanyakan adalah Ya, kemungkinan besar Anda telah terinfeksi virus stress tanpa Anda sadari.
Sebuah penelitian dari American Stress Institute (AIS) bahkan menambahkan bahwa gejala gangguan fisik seperti sering sakit kepala, rahang kaku atau nyeri, sakit di bagian leher, sakit punggung dan alergi yang tiba-tiba muncul bisa disebabkan oleh stress yang berkepanjangan.
Tips me-reprogram hidup yang telah terinfeksi virus stress.
1. Berdoalah!
Sehebat apapun kita, kita tetap ciptaan Tuhan, jadi kembalilah ke hakiki kemanusiaan kita.
2. Ingat, untuk siapa Anda bekerja.
Tutup mata Anda dan bayangkan wajah orang-orang yang Anda kasihi jika mungkin wajah anak, pasangan atau orang tua dan pastikan bahwa demi merekalah Anda bekerja.
3. Tuliskan rencana kerja Anda.
Selain untuk memaksimalkan waktu, menuliskan rencana kerja juga berfungsi sebagai reminder progress target Anda.
4. Buat prioritas.
Hanya ada 24 jam dalam sehari dan Anda tidak mungkin bekerja sepanjang waktu. Jangan ragu untuk mendelegasikan pekerjaan.
5. Hidup sehat dan seimbang.
Makan yang sehat, olahraga dan istirahat cukup.
6. Be positive!
Cari sisi positif dari tiap tekanan yang datang. Hindari negativity, karena akan menguras energi Anda.
RENUNGAN
Sebagai seorang pemimpin, di pundak Anda terletak hajat hidup orang-orang yang Anda kasihi, termasuk bawahan Anda. Jika Anda stress berkepanjangan, maka mereka akan jadi korban pertama. So, reprogram hidup Anda sekarang juga!
HARAPAN ITU MASIH ADA
Ada 4 lilin yang menyala,
Sedikit demi sedikit habis meleleh
Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.
Yang pertama berkata:
“Aku adalah Damai
Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”
Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.
Yang kedua berkata:
“ Aku adalah Iman
Sayang aku tak berguna lagi.
Manusia tak mau mengenalku,
Untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.”
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.
Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara:
“ Aku adalah Cinta
Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.
Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.
Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.”
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.
Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam.
Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata:
“ Ekh apa yang terjadi?! Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”
Lalu ia mengangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:
“Jangan takut,
Janganlah menangis,
selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:
Akulah
HARAPAN”
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.
Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita….
…dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!!!
BANGKITLAH NEGERIKU, HARAPAN ITU MASIH ADA!
JAYALAH INDONESIA, SINARI DUNIA
I AM THE WINNER SERI 1
YOU’RE NOT A LOOSER
Jadi Pribadi BerprestasiBanyak sosok berprestasi bertebaran didunia ini, yang membuat hidup dirinya atau orang lain menjadi berarti. Jangan sampai ketinggalan, kamu juga kudu punya prestasi.
Dari satu kata “BERBUAT”
Sobat muda, sejenak pandang apa yang ada di sekeliling kamu, yang terdekat saja. Pegang buku, pulpen, computer atau apa saja. Apa yang ada di pikiran kamu? Terbantu dengan keberadaan benda-benda tersebut?
Ya, benda-benda tersebut hanyalah contoh kecil prestasi dari orang yang membuat atau menemkannya.
Nilai KEBERADAAN
Beneran nih, semua orang bisa berprestasi? Kok bisa? Beneran! Sebab, pada dasarnya semua manusia ingin diterima lingkungannya. Ia ingin diakui. Ketika ingin diterima, tentu ia harus melakukan sesuatu yang berarti. Nah, ini selaras dengan keberadaan seorang muslim, karena misi suci seorang muslim adalah menjadikan dirinya penuh arti. Nilai keberadaan kita tergantung pada sejauh mana kita berjuang untuk menjadikan diri kita menjadi berarti. Seseorang dinilai ada, jika mampu memberikan makna. Sebaliknya, seseorang tidak akan mempunyai nilai jika tidak bias memberikan makna. Inilah hakikat dari prestasi.
Sayangnya, dalam masyarakat masih banyak penilaian tentang prestasi yang patokannya seringkali fisik belaka. Fisik bukan hanya tampilan wajah, tapi juga materi. Maka bertaburalah ajang adu prestasi remaja yang hanya mengandalkan fisik. Walau diselipi dengan unsure intelektual, itu hanya nomor sekian. Makna prestasi menjadi sempit dengan seberapa cantik dan ganteng. Ajang seperti itu diblow-up dan ajang yang jelas-jelas menampilkan prestasi terpinggirkan dengan berita-berita yang hanya sepi di sudut
Jangan PAS-PASAN
Jadi, prestasi adalah menjadikan diri selalu berarti, selalu berbuat kebaikan. Keberanian paling utama adalah mampu meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang kita perbuat mempunyai arti bagi orang lain. Mana mungkin mempengaruhi orang lain kalau kita sendiri belum yakin? Keyakinan tersebut tentu harus diiringi dengan pengetahuan yang cukup tentang visi dan misi kita sebagai seorang muslim. Simak deh ayat berikut:
“ dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. At-Taubah : 105)
Bekerja itu kuncinya. Akan tetapi, motto seorang muslim adalah “bekerja itu ibadah dan berprestasi itu indah.” Oleh karena itu janganlah bekerja asal-asalan dan memperoleh hasil yang pas-pasan. Prestasi bukanlah seperti itu.
Dari Abu Sa’id Al Khudry r.a., Nabi SAW bersabda: “Bahwa seorang mukmin itu sama sekali tidak pernah merasa puas untuk berbuat kebaikan sehingga penghabisannya nanti dia berjumpa dengan surge.” (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Tirmidzi)
Bagaikan meneguk air laut, kian direguk, kian haus rasanya. Begitulah cara seorang mukmin berbuat baik, tidak pernah mau berhenti untuk menghasilkan yang terbaik. Ia akan merasa ketinggalan atau kehilangan sesuatu bila kehidupannya tidak memberikan arti bagi diri dan lingkungannya.
You’re the FUTURE
Oleh karena itu bangkitkanlah selalu semangat untuk meraih prestasi; menjadikan diri memiliki arti; merasa tak berarti bila tak berprestasi. Apalagi sebagai pemuda, kita adalahmasa depan umat, begitu kata pepatah. You are the future of the world! Prestasi juga dilihat dari sejauh mana kontribusi kamu pada masa depan. “You are the future, and you can choose your contribution to that future!”
I’am the winner
Setiap kita pada dasarnya adalah pemenang, alias THE WINNER. Bapak Toto Tasmara dalam bukunya “Etos Kerja Pribadi Muslim” menyatakan bahwa sejak dini kita adalah manusia unggul, dan sejak dini pula sudah tertanaminsting bertanding.
Ketika kita belum berwujud manusia, miliaran sperma ayahanda berlomba untuk membuahi ovum. Dari sekian banyak itu, yang berhasil hanya satu dan itu tak lain adalah kita. Kemana sperma lain yang berlomba memperebutkan diri? Mereka kalah, mati. Jadi, kita adalah pemenang. So, mestinya tidak ada kamus untuk menyerah, malas, lemah, atau kehilangan daya tanding. Keuletan dan kegigihan adalah fitrah setiap pribadi manusia. We’ll keep on fighting till the end. We are the champion of the world! Ya, kita harus terus berjuang dan berprestasi, karena kita adalah JUARA!
Kamu bisa fighting dan berprestasi dimana saja, kapan saja, dan dalam hal apa saja: Akademis, Non Akademis, atau Perilaku.
Akademis
Memang sudah bukan zamannya mematok diri pada ranking. Lagi pula, nilai bagus tidak menjamin hidup akan sukses. IQ bukan jaminan, dan saat ini orang semakin mengutamakan kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan Spiritual (SQ). namun perpaduan ketiganya lebih baik, bukan? Jadi, apa salahnya kamu mengincar nilai bagus? Asalkan kamu tetap mengutamakan pemahaman, bukan jejeran angka 9 belaka. Dengan memiliki nilai baik, ada berbagai peluang untuk meraih prestasi lain. Percayalah teman-teman, kamu yang berkesempatan mendapat beasiswa sekolah/kuliah diluar negeri misalnya, itu karena nilai mereka yang baik.
Non Akademis
Jangan manyun kalau kamu nggak bisa dapat nilai bagus.
Yang menjadi pertanyaan inti sekarang adalah: “Kamu mau mengerjakan apa?” bukan Cuma “Apa yang kamu Bisa?”
Sebab, semua orang sebenarnya bisa melakukan apa saja, asal dia mau! Yang penting adalah kamu punya komitmen untuk menjadi pribadi yang berarti. Silakan pilih, mau berprestasi dibidang apa? Menjadi sukarelawan dalam bidang social? Wah, kesempatannya besar sekali tuh! Bidang seni dan budaya? Silakan. Ekonomi, politik, dan berbagai hal lain lagi. Yang jelas, satu hal penting kalau mau dibilang berprestasi: HASILKAN YANG TERBAIK.
Perilaku
Tahukah kamu, apa prestasi Rasulullah SAW. sebelum beliau diangkat menjadi Rasul? Al-Amin. Semua orang disekitarnya mengakui sikap amanah dan kejujuran Rasulullah. Sebenarnya ini bukan pilihan untuk berprestasi, sebab sebagai muslim kita memang kudu menjaga perilaku kita, yakni selaras dengan perintah Allah. Maksudnya adalah, bagaimana kita bisa menjadi teladan dalam hal moral dimasyarakat sekitar kita. Apalagi dengan kondisi masyarakat kita yang semakin kacau saat ini.
OK? Siap menjadi pemenang? kalau gitu, berprestasilah!
JADI TREND SETTER
Menjadi orang merdeka adalah menjadi orang yang tak mudah diombang-ambing trend yang sedang berkembang. Ia bukan mengikut trend, namun ia yang menjadi trend setter.
Menjadi yang TERBAIK
Ya, menjadi trend setter, itulah umat islam, mestinya begitu juga kamu sebagai remaja muslim. Namun, apa yang terjadi kini? Umat bagaikan buih, banyak namun tak berarti, persis seperti ramalan Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya. Dalam hadits lain disebutkan: “tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh kaum sebelumnya, selangkah demi selangkah, sedepa demi sedepa.” (HR. Bukhari)
Maka antrilah remaja mengekor trend yang berkembang, meski harus menanggalkan satu persatu rasa malu mereka. Merasa keren dengan pamer aurat atau teriak-teriak memuja penyanyi di konser-konser. Merasa modern dengan ngedugem, pacaran, coba-coba narkoba. Duh!
Padahal sejak awal kedatangannya, islam telah mematok diri sebagai pencipta trend. “kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi,” (Q.S. Ali Imran : 110). Bahwa kitalah umat terbaik yang mestinya diikuti dan dijadikan rujukan. Yang terbaik, masak sih di belakang?
So, buang jauh-jauh deh trend-trend semu yang bikin pikiran terbelenggu dan fisik nggak merdeka (gimana mau bebas kalau bernafas aja susah karena baju keketatan?). yakinlah, islam itu selalu dan selamanya akan selalu menjadi trend. Karena ada al-Qur’an yang menjadi dustur (panduan) dan Rasulullah menjadi qudwah (teladan).
Misalnya ajam sampai kapanpun jilbab akan menjadi trend, karena aturannya sudah jelas, ada dalam Al-Qur’an dan Hadits. Modelnya bisa bermacam-macam, tapi batasannya jelas. Contoh lain, sampai kapanpun pacaran nggak ada dalam islam, karena mudhorotnya lebih banyak daripada manfaatnya. Jangan dilegalisasi dengan “pacaran islami”. Sebab, aturan pergaulan lawan jenis dalam Al-Que’an dan Hadits cukup jelas. Ini kembali kepada kemampuan kamu mengendalikan hawa nafsu. Kalaupun kamu sudah tidak mampu mengendalikan, ada aturan-aturannya juga. Mulai dari puasa sampai menikah.
Trus, sampai kapanpun Rasulullah menjadi qudwah kita, karena beliau telah diutus sebagai rasul terakhir, sebagai penyempurna, dan Allah telah menyuruh kita untuk mengikuti beliau. Jadi, nggak ada kamusnya tuh kamu menempatkan Tom Cruisse, Brad Pitt, Backstreet Boys, atau seabrek seleb lainnya diatas Rasulullah. Beliau memang sudah wafat, namun bukan berarti jejaknya tak bisa diikuti. Jadikanlah beliau, para sahabat, dan orang-orang shalih sebagai teladan kita. Tunjukkan identitas kita sebagai seorang remaja muslim yang cerdas, gaul tapi tetap nyar’i.
Nah, kamu pilih mana, pengekor atau TREND SETTER? Mendingan jadi Trend Setter aja, tapi yang islami, oke?
